Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 November 2019

Review Film: Bad Times at the El Royale (2018)

sumber gambar: IMDB

Nama sutardara Drew Goddard sempat menarik perhatian dunia perfilman saat dirinya menghadirkan kisah horror komedi dengan konsep segar, The Cabin in the Woods. Dan kini Goddard kembali menawarkan cerita berbeda melalui film berjudul Bad Times at the El Royale. Seberapa menarik kisah film ini? Yuk simak reviewnya di sini!

Sinopsis Film

Memiliki latar tahun 1969, Bad Times at the El Royale berkisah tentang 7 orang asing yang masing-masing menyimpan rahasia kelam tersendiri, dan secara kebetulan saling bertemu di sebuah hotel di wilayah perbatasan Nevada-California bernama El Royale. Beberapa karakter di film ini adalah seorang pastur bernama Daniel Flynn (Jeff Bridges), penyanyi bernama Darlene Sweet (Chyntia Erivo), Emily Summerspring (Dakota Johnson) si wanita hippie, Laramie Seymour Sullivan (John Hamm) seorang salesman pembersih debu serta sang bell boy merangkap koki sekaligus petugas pembersih hotel, Miles Miller (Lewis Pullman).

Namun tak hanya para karakternya saja yang menarik untuk dikupas. Hotel El Royale sendiri memiliki sejarah yang tak boleh Anda kesampingkan guna menangkap kisah film ini sepenuhnya.

El Royale, merupakan hotel berbintang yang sempat mencicipi kejayaaan di masa lalu. Selebriti hingga petinggi negara pernah menjadi tamu di tempat ini. Namun semenjak ijin kasino hotel dicabut, para tamu mulai enggan datang dan membuat El Royale tampak suram dan sepi peminat. Tak hanya itu saja, El Royale sendiri juga menyimpan rahasia kelam yang secara tak sengaja diketahui para tamunya yang menginap malam itu.

Potongan Teka-Teki dalam Balutan Visual Menawan

Film Bad Times at the El Royale memiliki alur flashback, double back serta tampilan jump cut. Film ini tak memiliki alur linear, sehingga Anda bisa melihat satu adegan sama berkali-kali namun dalam point of view yang berbeda. Untuk saya pribadi konsep ini terasa menarik sehingga membuat penonton melihat kejadian dari berbagai pandangan tiap karakter. Namun pemilihan konsep ini  juga bisa menjadi bumerang, karena rentan menimbulkan rasa bosan dari penonton yang terus melihat adegan serupa. Terlebih film ini memiliki durasi 142 menit. Jadi bagi Anda yang membenci alur lambat, sepertinya harus memikirkan ulang untuk menyaksikan film ini atau tidak.

Selama film tersaji Anda akan diajak melihat lebih dalam mengenai karakter para pemain, mulai dari masa lalu mereka hingga kisah mengapa akhirnya mereka berada di El Royale. Hal-hal menarik yang terkuak dari tiap karakter berhasil memancing rasa penasaran penonton untuk terus mengikuti film ini sampai akhir. Apalagi Goddard begitu lihai membuat para penonton jadi ikut memiliki praduga pada beberapa karakter di film ini. Namun alur film yang dibuat mengulang adegan sama dalam point of view berbeda pada akhirnya akan membuat Anda mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Selain alur film yang tak biasa, El Royale punya nilai lebih dalam tampilan visualnya (salut untuk tim desainer produksi). Saya sendiri merasa terpuaskan melihat visual desain hotel yang menawan serta kesan retro yang disajikan dengan pas. Sedikit banyak saya merasakan vibe Wes Anderson di film ini, tetapi dalam eksekusi yang berbeda tentunya.

Berbagai potongan teka-teki yang disajikan Bad Times at the El Royale berhasil membuat para penonton larut dalam kisah ini. Dan menariknya tak hanya memasukan cerita para karater yang berkumpul di El Royale, Goddard juga turut menyelipkan kisah konspirasi yang mungkin harus Anda imajinasikan sendiri di akhir film.

Secara keseluruhan Bad Times at the El Royale merupakan tontonan yang cukup memuaskan baik dari segi visual, cerita, serta jajaran castnya. Jika Anda merupakan penggemar film-film seperti Identity, Vantage Point, atau Hateful Eight, maka Bad Times at the El Royale layak masuk sebagai daftar tonton.

Rating: 7,8/10

* artikel ini pernah tayang di beautyjournal.id

Review Film: Peppermint (2018)

Sumber gambar: IMDB

Sering berperan dalam film drama selama 10 tahun belakangan, di tahun 2018 ini Jennifer Garner kembali tampil dalam film aksi, yang sudah lebih dari satu dekade tak pernah ia sentuh. Masih piawaikah wanita berusia 46 tahun ini dalam memerankan sosok wanita badass yang tengah menjalankan misi balas dendam akibat kematian suami dan anaknya?

Sinopsis Film

Riley North (Jennifer Garner) harus mengalami kejadian tragis nan traumatis saat sang suami, Chris North (Jeff Hephner) dan putri semata wayangnya, Carly North (Cailey Fleming) ditembak oleh para anggota kartel di depan matanya sendiri. Bukan tanpa sebab, aksi brutal ini terjadi lantaran sang suami berencana untuk merampok bos kartel, Diego Garcia (Juan Pablo Raba). Begitu bengisnya karakter Diego hingga ia melakukan persekusi kepada seseorang yang baru berencana merampoknya.

Pasca kejadian memilukkan tersebut, kehidupan Riley pun berubah. Tak hanya kehilangan keluarga, sistem hukum pun tidak berpihak pada Riley. Seluruh pelaku penembakan tak mendapat ganjaran akibat faktor suap yang membuat ketiga pelaku dibebaskan. Belum lagi isu sang bos kartel Diego yang disebut memiliki orang dalam di tubuh kepolisian, semakin membuat kasus Riley menguap begitu saja.

Lalu kisah pun berlanjut 5 tahun setelah kejadian tersebut. Riley bukan lagi wanita yang sama seperti sebelumnya. Tubuhnya terlihat begitu fit lengkap dengan keahlian bela diri dan piawai menggunakan berbagai jenis senjata. Dan tepat 5 tahun kematian suami dan anaknya, Riley muncul untuk melakukan aksi balas dendam terhadap semua orang yang terlibat dalam kasus pembunuhan keluarganya.

Kembalinya Jennifer Garner dalam film ber-genre action.

Sejujurnya tak ada hal yang baru dalam film berdurasi 102 menit ini, alur cerita dan beberapa kejutan yang ditampilkan Peppermint mungkin akan mudah ditebak oleh mereka yang sudah sering menikmati film aksi sejenis. Namun kemampuan sang sutradara Pierre Morel (District 13, Taken, From Paris with Love) dalam menampilkan sosok Riley dan beberapa aksi tembak-menembaknya tetap terasa seru untuk dinikmati.

Belum lagi beberapa adegan intens yang bisa membuat ngilu ketika sang jagoan menyembuhkan luka seorang diri tanpa bantu medis. Adegan yang kerap jadi bumbu dalam film aksi. Meskipun bagi sebagian orang akan jadi adegan yang mengganggu, terkadang aksi menyembuhkan diri ini tetap perlu ditampilkan untuk membangun kesan nyata dengan menunjukkan bagaimana seorang jagoan juga bisa terluka. Tak hanya aksi balas dendam, di film ini penonton juga akan disuguhi sentuhan drama melalui tatapan Riley yang berkaca-kaca serta bagaimana sosok sang anak masih selalu tampil menemani Riley.

Meskipun ada beberapa plot hole yang saya rasakan, tapi untunglah Peppermint masih bisa dinikmati dengan nyaman. Terlebih melihat aksi Jennife Garner dalam memerankan sosok Riley North. Aktris yang lebih sering tampil di film bergenre drama ini kembali menampilkan sisi tangguhnya setelah sebelumnya pernah menampilkan aksi bela diri dalam series Alias dan film Elektra di tahun 2005 dan 2006.

Terlepas respon buruk para kritikus, film ini tetap menghibur

Secara keseluruhan film Peppermint tetap tergolong menghibur dengan nilai pribadi 6.5/10. Film ini bisa menjadi pilihan sebuah tontonan yang menarik, terutama bagi Anda yang menggilai film penuh aksi tembak-menembak, baku hantam dan ledakkan. Kehadiran jagoan wanita juga menjadi nilai tersendiri, terutama di tengah maraknya kampanye feminism yang kini banyak digalakkan.

Rating: 6.5/10

*artikel ini pernah tayang di beautyjournal.id