Sabtu, 02 November 2019

Review Film: Bad Times at the El Royale (2018)

sumber gambar: IMDB

Nama sutardara Drew Goddard sempat menarik perhatian dunia perfilman saat dirinya menghadirkan kisah horror komedi dengan konsep segar, The Cabin in the Woods. Dan kini Goddard kembali menawarkan cerita berbeda melalui film berjudul Bad Times at the El Royale. Seberapa menarik kisah film ini? Yuk simak reviewnya di sini!

Sinopsis Film

Memiliki latar tahun 1969, Bad Times at the El Royale berkisah tentang 7 orang asing yang masing-masing menyimpan rahasia kelam tersendiri, dan secara kebetulan saling bertemu di sebuah hotel di wilayah perbatasan Nevada-California bernama El Royale. Beberapa karakter di film ini adalah seorang pastur bernama Daniel Flynn (Jeff Bridges), penyanyi bernama Darlene Sweet (Chyntia Erivo), Emily Summerspring (Dakota Johnson) si wanita hippie, Laramie Seymour Sullivan (John Hamm) seorang salesman pembersih debu serta sang bell boy merangkap koki sekaligus petugas pembersih hotel, Miles Miller (Lewis Pullman).

Namun tak hanya para karakternya saja yang menarik untuk dikupas. Hotel El Royale sendiri memiliki sejarah yang tak boleh Anda kesampingkan guna menangkap kisah film ini sepenuhnya.

El Royale, merupakan hotel berbintang yang sempat mencicipi kejayaaan di masa lalu. Selebriti hingga petinggi negara pernah menjadi tamu di tempat ini. Namun semenjak ijin kasino hotel dicabut, para tamu mulai enggan datang dan membuat El Royale tampak suram dan sepi peminat. Tak hanya itu saja, El Royale sendiri juga menyimpan rahasia kelam yang secara tak sengaja diketahui para tamunya yang menginap malam itu.

Potongan Teka-Teki dalam Balutan Visual Menawan

Film Bad Times at the El Royale memiliki alur flashback, double back serta tampilan jump cut. Film ini tak memiliki alur linear, sehingga Anda bisa melihat satu adegan sama berkali-kali namun dalam point of view yang berbeda. Untuk saya pribadi konsep ini terasa menarik sehingga membuat penonton melihat kejadian dari berbagai pandangan tiap karakter. Namun pemilihan konsep ini  juga bisa menjadi bumerang, karena rentan menimbulkan rasa bosan dari penonton yang terus melihat adegan serupa. Terlebih film ini memiliki durasi 142 menit. Jadi bagi Anda yang membenci alur lambat, sepertinya harus memikirkan ulang untuk menyaksikan film ini atau tidak.

Selama film tersaji Anda akan diajak melihat lebih dalam mengenai karakter para pemain, mulai dari masa lalu mereka hingga kisah mengapa akhirnya mereka berada di El Royale. Hal-hal menarik yang terkuak dari tiap karakter berhasil memancing rasa penasaran penonton untuk terus mengikuti film ini sampai akhir. Apalagi Goddard begitu lihai membuat para penonton jadi ikut memiliki praduga pada beberapa karakter di film ini. Namun alur film yang dibuat mengulang adegan sama dalam point of view berbeda pada akhirnya akan membuat Anda mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Selain alur film yang tak biasa, El Royale punya nilai lebih dalam tampilan visualnya (salut untuk tim desainer produksi). Saya sendiri merasa terpuaskan melihat visual desain hotel yang menawan serta kesan retro yang disajikan dengan pas. Sedikit banyak saya merasakan vibe Wes Anderson di film ini, tetapi dalam eksekusi yang berbeda tentunya.

Berbagai potongan teka-teki yang disajikan Bad Times at the El Royale berhasil membuat para penonton larut dalam kisah ini. Dan menariknya tak hanya memasukan cerita para karater yang berkumpul di El Royale, Goddard juga turut menyelipkan kisah konspirasi yang mungkin harus Anda imajinasikan sendiri di akhir film.

Secara keseluruhan Bad Times at the El Royale merupakan tontonan yang cukup memuaskan baik dari segi visual, cerita, serta jajaran castnya. Jika Anda merupakan penggemar film-film seperti Identity, Vantage Point, atau Hateful Eight, maka Bad Times at the El Royale layak masuk sebagai daftar tonton.

Rating: 7,8/10

* artikel ini pernah tayang di beautyjournal.id

Review Film: Halloween (2018)

Sumber gambar: IMDB

Sejak pertama dirilis tahun 1978, film Halloween yang mengangkat sosok pembunuh berdarah dingin bernama Mike Myers langsung mendapat sambutan hangat dari para penikmat film. Di samping sosok menyeramkan Mike Myers, scoring film ini pun jadi salah satu ciri khas yang kemudian terus melekat di telinga setiap penonton. Begitu fenomenalnya film Halloween, terhitung sudah ada 10 sekuel dari Film original Halloween garapan John Carpenter yang rilis 40 tahun lalu. Yang terbaru, adalah film Halloween (2018) karya David Gordon Green yang tayang 17 Oktober di layar bioskop tanah air. Bagi Anda yang tengah berencana untuk kembali bernostalgia dengan sosok menyeramkan Mike Myers, tak ada salahnya untuk  terlebih dulu melihat review film Halloween, berikut ini.

Sinopsis Film

Genap 40 tahun berlalu sejak kejadian mengerikan yang dialami Laurie Strode (Jamie Lee Curtis) pada malam Halloween. Di mana kala itu dirinya harus menghadapi teror dari sosok pria bernama Mike Myers yang kabur dari rumah sakit jiwa dan sempat ditahan selama 15 tahun akibat melakukan pembunuhan tingkat pertama terhadap kakaknya, saat Mike baru berusia 6 tahun.

Meski masa lalu kelam itu telah berlalu, tetapi Laurie masih tak bisa lepas dari bayang-bayang Mike, hingga mengubah dirinya menjadi sosok yang penuh antisipasi, hingga membekali diri dengan berbagai keahlian demi perlindungan diri. Bukan tanpa alasan, Laurie memiliki harapan jika suatu saat nanti ia bisa kembali bertemu dengan sosok Mike dan menghabisi pria ini dengan tangannya sendiri.

Rasa obsesi Laurie pada Mike membuat kehidupan pribadinya jadi berantakan. Mengalami kegagalan pernikahan sebanyak 2 kali, hingga harus dijauhi putri semata wayangnya, Karen (Judy Greer). Untunglah sikap dingin sang anak tak diturunkan pada cucunya, Allyson (Andi Matichak) yang masih menjalin kedekatan dan komunikasi dengan Laurie di luar sepengetahuan Karen.

Kehidupan Laurie yang penuh kewaspadaan dan paranoid, akhirnya menjadi kenyataan saat bus yang ditumpangi Mike dan belasan pasien rumah sakit jiwa mengalami kecelakaan, hingga membuat sang pembunuh berdarah dingin ini kembali bebas. Tentu saja Mike langsung mengarahkan tujuannya menuju Haddonfield, Illinois, untuk menemui Laurie demi menuntaskan perburuannya.

Mampu menebar teror, tetapi belum berhasil lampaui pendahulunya

Meskipun memiliki 9 film lain yang berkisah tentang sosok Mike Myers, tapi Anda tak perlu repot-repot menyaksikan seluruh film tersebut demi mendapat benang merah film Halloween (2018). Karena film Halloween hanya melanjutkan kisah dari film orisinalnya di tahun 1978. Belum pernah menyaksikan film pertamanya? Tenang saja, film Halloween (2018) tetap bisa Anda nikmati tanpa merasa kebingungan, kok. Hanya saja tentu nuansa yang didapatkan akan sedikit berbeda. Anda tak ikut merasakan nuansa nostalgia saat karakter Laurie muncul, atau saat adegan tertentu yang seolah kembali mereka ulang adegan di film pertamanya (adegan Allyson di dalam kelas).

Dari sekian banyak film sekuel seputar Mike Myers bisa dibilang film Halloween milik David Gordon Green ini cukup memuaskan dan tidak terkesan cetek. Cerita yang dibangun cukup nyaman untuk diikuti, bahkan sosok Mike Myers tampak terlihat begitu menakutkan karena kemampuannya dalam menghabisi siapa saja yang ia temui tanpa rasa ampun. Beberapa jump scare yang dihadirkan juga sempat berhasil membuat para penonton di dalam bioskop merasa kaget.

Kisah Laurie dan Mike adalah adegan yang paling saya nantikan di film ini. Karena cerita yang dibangun sekitar kehidupan Laurie,  terasa cukup membosankan bahkan tergolong tidak penting. Seperti lingkungan pertemanan Allyson yang tidak menghibur, serta percakapan antar tokoh yang tak berisi. Untunglah durasi perburuan Mike cukup dominan, bahkan Green berhasil menyajikan adegan-adegan pamungkas yang terasa klimaks di akhir film.

Secara keseluruhan Halloween memiliki cerita yang menghibur dengan nilai 6.8/10. Meski belum bisa menyaingi film terdahulu garapan John Carpenter, tapi setidaknya kehadiran Mike Myers di film ini bisa menjadi obat rindu bagi para penggemar kisah Halloween yang menantikan cerita penuh teror dan tentunya akhir kisah Laurie vs Mike.

Rating: 6,8/10

*artikel ini pernah tayang di beautyjournal.id

Review Film : Venom (2018)

Sumber gambar: IMDB

Sejak menampilkan trailer perdana di bulan Februari, film Venom terus memunculkan rasa penasaran sekaligus ekspektasi dari para pencinta Marvel Comics. Selain karakter anti-hero yang ikonik dan menarik untuk diangkat kisahnya. Pemilihan Tom Hardy sebagai Eddie Brock juga terbilang memuaskan banyak pihak mengingat rekam jejak Tom di dunia akting yang hampir tak pernah mengecewakan.

*SPOILER ALERT. Artikel ini berisikan jalan cerita film yang mungkin tidak ditayangkan pada trailer

Sinopsis film

Berkisah tentang Eddie Brock (Tom Hardy), seorang jurnalis investigasi yang mendapat kesempatan mewawancarai Dr. Carlton Drake, sang pemilik yayasan bernama Life Foundation. Namun sayangnya, Eddie Brock tidak memiliki batasan antara pekerjaan dan hubungan pribadi. Dalam satu kesempatan Eddie membuka e-mail milik sang tunangan, Anne Weying (Michelle Williams) yang merupakan pengacara dari yayasan Life Foundation. Melalui e-mail tersebut Eddie pun mengetahui berbagai hal buruk yang sudah dilakukan yayasan milik Carlton.

Bermodalkan info rahasia yang hanya diketahui orang dalam, sesi wawancara Eddie dengan Carlton akhirnya berbuah malapetaka bagi sang jurnalis. Eddie dipecat dari pekerjaan dan Anne meninggalkannya. Hingga satu kesempatan Eddie bertemu dengan Dr. Dora Skirth (Jenny Slate), professor yang bekerja dengan Carlton dan mengungkapkan eksperiman di mana Carlton ingin menggabungkan makhluk alien, symbiote dan manusia. Hingga pada penelusuran investigasinya, secara tak sengaja salah satu symbiote memasuki tubuh Eddie dan mengubahnya menjadi Venom.

Akting yahud namun kisah klise

Di samping jalan cerita klise layaknya film superhero lain (walau Venom adalah film anti-hero). Secara keseluruhan film Venom menyajikan kisah yang menghibur. Dari awal hingga akhir film saya cukup menikmati kisahnya. Tapi sebatas itu saja. Setelah keluar dari bioskop film ini tidak meninggalkan kesan yang mendalam. Dialog antar pemain tak begitu ngena, dan jadi sekadar percakapan lalu. Saya pun tak menangkap kesan kelam dan menyeramkan dari sosok Venom. Ya meskipun ia merupakan symbiote berkekuatan besar yang senang memakan manusia, tetapi kesan humor yang ditampilkan dalam film ini jauh lebih menempel dibandingkan sisi gelap sang Venom. Terutama saat interaksi antara Eddie dan Venom, ada banyak humor yang disajikan.

Adapun hal menarik dari film ini, sepenuhnya adalah kemampuan Tom Hardy dalam membawakan karakter Eddie dan Venom. Meskipun bukan hal baru, mengingat sang aktor juga pernah sukses membawakan dua karakter berbeda di film Legend. Dan karena kepiawaian sang aktor pula, saya memberikan nilai 7/10 untuk film ini. Selain itu, serupa dengan film Marvel lainnya. Setelah film usai dan credit title muncul sebaiknya Anda tetap duduk nyaman di bangku bioskop, karena film Venom menampilkan 2 post credit di akhir film.

Rating diubah dan pemotongan adegan hingga 40 menit

Saat Sony Pictures mengumumkan film Venom, disebutkan film ini akan masuk dalam kategori R atau dewasa, layaknya film Deadpool maupun Logan. Namun di tengah jalan, pihak Sony Pictures mengubah rating hingga menurunkannya menjadi PG-13 atau film yang bisa disaksikan usia 13 ke atas. Dikutip dari Variety, pihak Sony berharap rating ini bisa membuat Venom bergabung dalam Spider-Man Marvel Cinematic Universe (MCU). Karena keputusan ini pula Venom mengalami pemotongan adegan hingga 40 menit. Meskipun tidak menyajikan kisah yang sepenuhnya mencekam dan membuat sosok Venom sebagai anti-hero yang begitu menakutkan, tapi kabar ini tentu jadi berita baik bagi Anda penggemar Spider-Man, karena besar kemungkinan Venom dan Spider-Man akan berbagi layar di film selanjutnya.

Rating: 7/10

*artikel ini pernah tayang di beautyjournal.id

Review Film: Johnny English Strikes Again (2018)

Sumber gambar: IMDB

Sosok Johnny English, agen rahasia yang jadi parodi aksi James Bond ini pertama kali muncul di tahun 2003. Mendulang sukses di film pertama, kisah Johnny English pun dibuat menjadi trilogi dan kembali hadir di tahun 2011, serta yang paling baru di tahun ini. Tujuh tahun berlalu sejak aksinya di film ke-2, Johnny English Reborn. Kira-kira seberapa piawai kemampuan Rowan Atkinson dalam mengocok perut penonton dan melepaskan sosok Mr. Bean yang begitu kental melekat padanya?

Sinopsis Film

Pemerintah Inggris dalam kondisi darurat saat sistem keamanan negara diretas hacker yang membocorkan data diri setiap agen rahasia Inggris. Hal ini tentu membuat sang Perdana Menteri (Emma Thompson) cemas karena kejadian ini berlangsung H-7 sebelum penyelenggaraan G-12 yang jadi momen penting pertemuan berbagai negara.

Demi menangkap sosok dibalik aksi ini, pemerintah Inggris meminta bantuan para agen rahasia terdahulu yang datanya tak diretas sang hacker. Dan nama Johnny English (Rowan Atkinson) pun muncul, karena dirinya merupakan salah satu agen lawas yang data dirinya masih tersimpa aman.

Hal ini yang akhirnya membuat pemerintah Inggris mau tak mau, mengirim Johnny untuk menyelesaikan misi kali ini. Namun dengan usia yang tak lagi muda dan gagap teknologi digital yang dimilikinya, membuat misi Johnny dalam memburu sang hacker jadi lebih menantang. Ditemani rekan setianya, Bough (Ben Miller), Johnny berusaha menyelesaikan misi ini dengan cara menghindari penggunaan berbagai perlengkapan digital dan memilih memanfaatkan teknologi terdahulu. Berhasilkah Johnny English menyelesaikan misi ini?

Teknologi lawas VS teknologi digital

Berdurasi 88 menit, film garapan sutradara David Kerr ini tak hanya menampilkan aksi come back Rowan Atkinson di dunia seni peran. Tapi juga dari segi cerita yang menampilkan bagaimana sang agen rahasia tak mau mengandalkan teknologi digital dan lebih memilih perlengkapan jaman dulu (jadul). Alhasil para penonton akan dibuat bernostalgia dengan berbagai peralatan yang ada, yang mungkin sering mereka temukan sebagai perlengkapan 'wajib' dalam film mata-mata komedi terdahulu. Melalui unsur ini pula, Anda akan menemukan berbagai scene yang kocak dan mengundang gelak tawa.

Selain penampilan Rowan Atkinson yang jenaka, para pemain pendukung juga tampil apik demi membangun adegan yang solid dan mengundang gelak tawa. Seperti kehadiran aktris Olga Kurylenko yang berperan sebagai Ophelia. Aktris keturunan Ukrania ini terlihat mampu menampilkan ekspresi yang pas demi memperkuat karakter Rowan Atkinson yang memiliki tingkah aneh dan ada-ada saja.

Rowan Atkinson si tokoh sentral

Meskipun tak bisa lagi dibilang muda, tapi penampilan Rowan Atkinson tetap terlihat apik dan mampu menghadirkan gelak tawa dalam tiap scene. Karakter Mr. Bean yang melekat padanya bisa terlepaskan di film ini meski tidak sepenuhnya. Saat sang aktor berusia 63 tahun ini bicara otomatis karakter Mr.Bean yang minim suara langsung terlepas. Namun ada beberapa ekspresi dan tingkah khas Rowan Atkinson yang kadang membuat saya tak bisa menahan tawa karena ingat dengan tokoh Mr.Bean. Tapi hal ini bukan kekurangan, melainkan kelebihan dari Rowan yang bisa memancing tawa penonton dalam tampilan apapun.

Selain ekspresi wajah berbagai adegan komedi slapstick juga sukses jadi bumbu yang mampu membangkitkan tawa penonton. Ada beberapa adegan jagoan yang menurut saya cukup jadi gong dan paling banyak mengundang tawa. Untungnya adegan ini terjadi tak hanya sekali dan tersebar merata selama film berlangsung. Ya, walau kadang ada juga adegan humor yang masih kurang 'berhasil' dan hanya cukup membuat saya menyunggingkan senyum.

Kangen tingkah konyol Rowan Atkinson? Anda wajib nonton film ini

Menawarkan genre komedi, tentu film ini akan fokus pada sajian humor. Sedangkan dari segi cerita, bisa dibilang film ini tidak terlalu solid dan masih memiliki kekurangan, seperti kisah yang klise dan twist yang tak sulit untuk ditebak. Tapi siapa juga yang mau repot-repot terlalu serius mencerna segala ketidakmungkinan dalam jalan cerita, kalau sejak awal film ini memang berada di ranah komedi dan fokus pada aksi kocak Johnny.

Rating: 6,8/10

*artikel ini pernah tayang di beautyjournal.id

Review Film: Peppermint (2018)

Sumber gambar: IMDB

Sering berperan dalam film drama selama 10 tahun belakangan, di tahun 2018 ini Jennifer Garner kembali tampil dalam film aksi, yang sudah lebih dari satu dekade tak pernah ia sentuh. Masih piawaikah wanita berusia 46 tahun ini dalam memerankan sosok wanita badass yang tengah menjalankan misi balas dendam akibat kematian suami dan anaknya?

Sinopsis Film

Riley North (Jennifer Garner) harus mengalami kejadian tragis nan traumatis saat sang suami, Chris North (Jeff Hephner) dan putri semata wayangnya, Carly North (Cailey Fleming) ditembak oleh para anggota kartel di depan matanya sendiri. Bukan tanpa sebab, aksi brutal ini terjadi lantaran sang suami berencana untuk merampok bos kartel, Diego Garcia (Juan Pablo Raba). Begitu bengisnya karakter Diego hingga ia melakukan persekusi kepada seseorang yang baru berencana merampoknya.

Pasca kejadian memilukkan tersebut, kehidupan Riley pun berubah. Tak hanya kehilangan keluarga, sistem hukum pun tidak berpihak pada Riley. Seluruh pelaku penembakan tak mendapat ganjaran akibat faktor suap yang membuat ketiga pelaku dibebaskan. Belum lagi isu sang bos kartel Diego yang disebut memiliki orang dalam di tubuh kepolisian, semakin membuat kasus Riley menguap begitu saja.

Lalu kisah pun berlanjut 5 tahun setelah kejadian tersebut. Riley bukan lagi wanita yang sama seperti sebelumnya. Tubuhnya terlihat begitu fit lengkap dengan keahlian bela diri dan piawai menggunakan berbagai jenis senjata. Dan tepat 5 tahun kematian suami dan anaknya, Riley muncul untuk melakukan aksi balas dendam terhadap semua orang yang terlibat dalam kasus pembunuhan keluarganya.

Kembalinya Jennifer Garner dalam film ber-genre action.

Sejujurnya tak ada hal yang baru dalam film berdurasi 102 menit ini, alur cerita dan beberapa kejutan yang ditampilkan Peppermint mungkin akan mudah ditebak oleh mereka yang sudah sering menikmati film aksi sejenis. Namun kemampuan sang sutradara Pierre Morel (District 13, Taken, From Paris with Love) dalam menampilkan sosok Riley dan beberapa aksi tembak-menembaknya tetap terasa seru untuk dinikmati.

Belum lagi beberapa adegan intens yang bisa membuat ngilu ketika sang jagoan menyembuhkan luka seorang diri tanpa bantu medis. Adegan yang kerap jadi bumbu dalam film aksi. Meskipun bagi sebagian orang akan jadi adegan yang mengganggu, terkadang aksi menyembuhkan diri ini tetap perlu ditampilkan untuk membangun kesan nyata dengan menunjukkan bagaimana seorang jagoan juga bisa terluka. Tak hanya aksi balas dendam, di film ini penonton juga akan disuguhi sentuhan drama melalui tatapan Riley yang berkaca-kaca serta bagaimana sosok sang anak masih selalu tampil menemani Riley.

Meskipun ada beberapa plot hole yang saya rasakan, tapi untunglah Peppermint masih bisa dinikmati dengan nyaman. Terlebih melihat aksi Jennife Garner dalam memerankan sosok Riley North. Aktris yang lebih sering tampil di film bergenre drama ini kembali menampilkan sisi tangguhnya setelah sebelumnya pernah menampilkan aksi bela diri dalam series Alias dan film Elektra di tahun 2005 dan 2006.

Terlepas respon buruk para kritikus, film ini tetap menghibur

Secara keseluruhan film Peppermint tetap tergolong menghibur dengan nilai pribadi 6.5/10. Film ini bisa menjadi pilihan sebuah tontonan yang menarik, terutama bagi Anda yang menggilai film penuh aksi tembak-menembak, baku hantam dan ledakkan. Kehadiran jagoan wanita juga menjadi nilai tersendiri, terutama di tengah maraknya kampanye feminism yang kini banyak digalakkan.

Rating: 6.5/10

*artikel ini pernah tayang di beautyjournal.id

Review Film: Crazy Rich Asians (2018)


Mengikuti kesuksesan Novel karya Kevin Kwan berjudul Crazy Rich Asians yang rilis tahun 2013, sepertinya para sineas Hollywood tak ingin berlama-lama untuk bisa segera mengadaptasi kisah percintaan Rachel Chu dan Nick Young ke layar lebar. Hasilnya, Film Crazy Rich Asians pun dirilis oleh rumah produksi Warner Bros pada pertengahan Agustus 2018 lalu.

Serupa dengan kesuksesan novelnya, film yang disutradarai oleh John M. Chu ini berhasil meraup untung lebih dari $24 juta pada minggu pertama penayangannya di Amerika Serikat, sekaligus menjadikannya sebagai Box Office. Namun seberapa berhasilkah film bergenre rom-com ini menarik perhatian para penontonnya? Coba simak reviewnya di bawah ini, yuk!

Sinopsis Film

Hubungan Rachel Chu (Constance Wu) dan Nick Young (Henry Golding) tengah berada di fase bahagia. Setelah setahun menjalin hubungan, Nick merasa jika hubungan mereka pantas untuk lanjut pada tingkat yang lebih serius. Untuk itu, Nick mengajak sang kekasih bertemu dengan keluarganya di Singapura, alih-alih menghadiri pesta pernikahan kerabat mereka. Latar belakang keluarga Nick yang tak pernah diceritakan dengan gamblang, tak membuat Rachel ragu dan ia pun setuju untuk melakukan penerbangan selama lebih dari 18 jam, tanpa menyadari jika dirinya akan segera menjadi pusat perhatian seluruh keluarga Nick (atau jika tak dibilang berlebihan, seluruh warga Singapura).

Serupa dengan wanita pada umumnya yang merasa stres dan khawatir saat harus bertemu dengan keluarga besar kekasihnya, hal ini pula yang dirasakan oleh Rachel. Namun Rachel tak pernah mengira jika keluarga Nick memiliki latar super kaya dengan gaya hidup yang mungkin tak pernah dibayangkan Rachel sebelumnya. Di sinilah petualangan Rachel dalam menjelajahi kehidupan glamor kaum jetset Asia dimulai. Kisah ini pun jadi semakin menarik, karena Rachel harus bisa menghadapi sekaligus mendapat restu dari orang tua Nick yaitu sang ibu, Eleanor Young (Michelle Yeoh).

Dalamnya Makna Keluarga dalam Kultur Asia

Meriah. Itu satu kata yang bisa saya sebutkan saat menggambarkan suasana film ini. Selain sederet scene yang menggambarkan satu pesta ke pesta lain, film ini juga tak luput menggambarkan bagaimana masyakarat umum Asia begitu menyukai tampilan dekorasi yang megah nan glamor. Anda bisa melihatnya dari kehidupan keluarga Peik Lin Goh (Awkwafina) sahabat Rachel, yang memiliki keluarga humoris dan penuh perhatian.

Meskipun menampilkan kisah Rachel dan Nick sebagai sajian utama, Anda juga akan diajak untuk melihat permasalahan berbagai anggota keluarga Young yang lain, seperti Astrid (Gemma Chan), sepupu Nick yang memilih menikah dengan pria biasa. Serta beberapa sepupu lain yang tentunya memiliki problem hidup berbeda.

Di balik sajian romantisme antara Rachel dan Nick, yang hampir selalu akur dan menemukan jalan keluar dari tiap masalah mereka, film ini juga turut menghadirkan bagaimana pentingnya arti sebuah keluarga bagi masyarakat Asia. Mulai dari kedekatan orang tua dan anak, bagaimana anak tetap tinggal dengan orang tua sebelum mereka menikah, hingga kebiasaan untuk mengurus orang tua saat memasuki usia senja, daripada memasukkan mereka ke panti jompo. Kondisi ini secara tak langsung membuat sosok Rachel melihat hal berbeda yang tak pernah ia temukan sebelumnya. Karena meskipun berdarah Asia, tapi Rachel adalah seorang new yorker sejati, yang membuatnya biasa hidup mandiri dan jauh dari kehangatan keluarga besar.

Kisah Rom-Com Berkelas yang Segar dan Menghibur

Jika hanya menyimak premis utama film tentu kisah yang disajikan Crazy Rich Asians bukanlah kisah baru dan bisa Anda temukan dalam beberapa film asal Hollywood lainnya, sebut saja Why Him, Big Sick atau The Notebook yang mengangkat kisah soal hubungan percintaan yang tidak disetujui oleh orang tua salah satu pasangan. Namun tenang saja, Crazy Rich Asians memiliki berbagai formula lain yang pada akhirnya membuat kisah rom-com satu ini terasa lebih wow dan menarik.
Dimulai dari pemilihan para pemainnya, meskipun memasang nama Henry Golding yang tergolong baru di ranah Hollywood, tetapi Crazy Rich Asians memiliki beberapa nama aktor dan aktris besar berdarah Asia, seperti Michelle Yeoh (Crouching Tigger Hidden Dragon, Guardian of the Galaxy), Ken Jeong (Hangover, Transformer) Gemma Chan (Transformers: The Last Knight, Fantastic Beasts and Where to Find Them) serta Awkwafina (Ocean's 8).

Selain pemain, dari segi kisah ada kultur Asia yang coba diangkat dalam film ini yang menjadikan Crazy Rich Asians sebagai tontonan menarik dan tampak segar bagi dunia perfilman Hollywood. Karena terakhir kali Hollywood coba mengangkat kisah keluarga Asia, kesuksesannya terjadi 25 tahun lalu saat film The Joy Luck Club rilis di tahun 1993.

Dengan modal yang mumpuni dari segi novel yang sudah lebih dulu sukses, deretan pemain hingga budaya Asia dan gaya hidup kaum jetset yang ditampilkan, membuat film ini bisa menjadi tontonan ringan berkelas yang berhasil mengubah stigma film rom-com sebagai kisah itu-itu saja yang rentan mengalami flop di saat rilis, karena dianggap punya kelas sebatas film televisi.

Rating:7/10

*artikel ini pernah tayang di beautyjournal.id