Sabtu, 02 November 2019

Review Film : Venom (2018)

Sumber gambar: IMDB

Sejak menampilkan trailer perdana di bulan Februari, film Venom terus memunculkan rasa penasaran sekaligus ekspektasi dari para pencinta Marvel Comics. Selain karakter anti-hero yang ikonik dan menarik untuk diangkat kisahnya. Pemilihan Tom Hardy sebagai Eddie Brock juga terbilang memuaskan banyak pihak mengingat rekam jejak Tom di dunia akting yang hampir tak pernah mengecewakan.

*SPOILER ALERT. Artikel ini berisikan jalan cerita film yang mungkin tidak ditayangkan pada trailer

Sinopsis film

Berkisah tentang Eddie Brock (Tom Hardy), seorang jurnalis investigasi yang mendapat kesempatan mewawancarai Dr. Carlton Drake, sang pemilik yayasan bernama Life Foundation. Namun sayangnya, Eddie Brock tidak memiliki batasan antara pekerjaan dan hubungan pribadi. Dalam satu kesempatan Eddie membuka e-mail milik sang tunangan, Anne Weying (Michelle Williams) yang merupakan pengacara dari yayasan Life Foundation. Melalui e-mail tersebut Eddie pun mengetahui berbagai hal buruk yang sudah dilakukan yayasan milik Carlton.

Bermodalkan info rahasia yang hanya diketahui orang dalam, sesi wawancara Eddie dengan Carlton akhirnya berbuah malapetaka bagi sang jurnalis. Eddie dipecat dari pekerjaan dan Anne meninggalkannya. Hingga satu kesempatan Eddie bertemu dengan Dr. Dora Skirth (Jenny Slate), professor yang bekerja dengan Carlton dan mengungkapkan eksperiman di mana Carlton ingin menggabungkan makhluk alien, symbiote dan manusia. Hingga pada penelusuran investigasinya, secara tak sengaja salah satu symbiote memasuki tubuh Eddie dan mengubahnya menjadi Venom.

Akting yahud namun kisah klise

Di samping jalan cerita klise layaknya film superhero lain (walau Venom adalah film anti-hero). Secara keseluruhan film Venom menyajikan kisah yang menghibur. Dari awal hingga akhir film saya cukup menikmati kisahnya. Tapi sebatas itu saja. Setelah keluar dari bioskop film ini tidak meninggalkan kesan yang mendalam. Dialog antar pemain tak begitu ngena, dan jadi sekadar percakapan lalu. Saya pun tak menangkap kesan kelam dan menyeramkan dari sosok Venom. Ya meskipun ia merupakan symbiote berkekuatan besar yang senang memakan manusia, tetapi kesan humor yang ditampilkan dalam film ini jauh lebih menempel dibandingkan sisi gelap sang Venom. Terutama saat interaksi antara Eddie dan Venom, ada banyak humor yang disajikan.

Adapun hal menarik dari film ini, sepenuhnya adalah kemampuan Tom Hardy dalam membawakan karakter Eddie dan Venom. Meskipun bukan hal baru, mengingat sang aktor juga pernah sukses membawakan dua karakter berbeda di film Legend. Dan karena kepiawaian sang aktor pula, saya memberikan nilai 7/10 untuk film ini. Selain itu, serupa dengan film Marvel lainnya. Setelah film usai dan credit title muncul sebaiknya Anda tetap duduk nyaman di bangku bioskop, karena film Venom menampilkan 2 post credit di akhir film.

Rating diubah dan pemotongan adegan hingga 40 menit

Saat Sony Pictures mengumumkan film Venom, disebutkan film ini akan masuk dalam kategori R atau dewasa, layaknya film Deadpool maupun Logan. Namun di tengah jalan, pihak Sony Pictures mengubah rating hingga menurunkannya menjadi PG-13 atau film yang bisa disaksikan usia 13 ke atas. Dikutip dari Variety, pihak Sony berharap rating ini bisa membuat Venom bergabung dalam Spider-Man Marvel Cinematic Universe (MCU). Karena keputusan ini pula Venom mengalami pemotongan adegan hingga 40 menit. Meskipun tidak menyajikan kisah yang sepenuhnya mencekam dan membuat sosok Venom sebagai anti-hero yang begitu menakutkan, tapi kabar ini tentu jadi berita baik bagi Anda penggemar Spider-Man, karena besar kemungkinan Venom dan Spider-Man akan berbagi layar di film selanjutnya.

Rating: 7/10

*artikel ini pernah tayang di beautyjournal.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar