Jumat, 01 November 2019

Review film Sicario: Day of the Soldado (2018)


Setelah sukses dengan film 'Sicario' di tahun 2015, duo Alejandro (Benicio Del Toro) dan Matt Graver (Josh Brolin) kembali hadir dengan misi baru yang tak kalah menegangkan di film 'Sicario: Day of the Soldado'. Meskipun digarap oleh sutradara berbeda dari film terdahulunya, 'Sicario: Day of the Soldado' tetap mampu menghadirkan ketegangan yang intens dan aksi tembak menembak.

Brutal dan Penuh Aksi

Jika sebelumnya Alejandro dan Graver bekerja sama untuk menyelesaikan penjualan obat-obat terlarang yang melibatkan para kartel narkotika, kini keduanya harus melakukan misi rahasia yang berurusan dengan masalah imigran gelap. Dengan misi berbeda tentu saja penonton yang baru ingin menikmati film ini tidak perlu repot-repot menyaksikan film 'Sicario' demi memahami alur kisah film lanjutan ini. Meskipun digarap sutradara berbeda, tapi sentuhan di awal film ini masih menggunakan formula film terdahulunya. Di 10 menit awal, adegan sudah dibuat intens dengan menampilkan aksi para teroris.


Dianggap berperan dalam menyelundupkan imigran ilegal yang berujung pada maraknya aksi teroris, akhirnya pemerintah Amerika harus kembali memanggil Graver untuk mengerjakan sebuah misi rahasia dengan tujuan memecah-belah kelompok kartel di negara tetangga, Meksiko. Untuk memenuhi tugas tersebut, Graver pun langsung menghubungi rekannya Alejandro.

Misi menghabisi para Kartel, tentu tidak disia-siakan Alejandro. Mengingat dirinya harus kehilangan istri dan anak karena perbuatan salah satu pemimpin kartel, hal ini bisa jadi ajang balas dendam alih-alih mengerjakan misi yang diberikan. Alejandro pun membantu Graver dalam membuat keributan dan provokasi agar para kelompok kartel saling menyerang, mulai dari melakukan penyerangan hingga penculikan anak dari salah satu pemimpin kartel. Namun tentu saja misi mereka tidak akan dibuat berjalan mulus dan kerap menghadapi kendala.

Sajian Action dan Drama yang Seimbang

Memiliki durasi sekitar 2 jam film ini tetap nikmat untuk diikuti alurnya tanpa terasa membosankan, tentu saja hal ini tidak lepas dari peran Taylor Sheridan (Wind River, Hell or High Water, Sicario) yang menuliskan skenario secara apik dan tidak membiarkan percakapan terasa hambar. Terlebih 'Sicario: Day of the Soldado' juga mengusung genre drama, maka otomatis sepanjang durasi penonton tidak akan terus menerus dicekoki adegan kejar-kejaran mobil dan baku tembak saja. Ada beberapa adegan dan percakapan yang menguak masa lalu Alejandro secara subtil. Hal ini juga yang membuat penonton melihat sisi lain dari sosok Alejandro yang dikenal berdarah dingin dan tak ragu dalam menghabisi lawannya, hingga ia bisa terlihat sedikit lembut dan sentimental di beberapa kesempatan. Di samping skenario yang baik, film ini juga masih memiliki kekuatan tersendiri pada bagian scoring. Setiap adegan senyap hingga adegan penuh ketegangan semakin terasa nyata berkat sentuhan musik pendukung yang pas.

Secara keseluruhan 'Sicario: Day of the Soldado' memang belum bisa menyaingi film terdahulunya, tapi film kedua ini masih memiliki alur baik dan ketegangan yang secara konsisten dapat terus dibangun, sehingga para penonton terdahulu yang sudah sempat menikmati film Sicario tidak akan terlampau kecewa.

Namun bagi saya, ada beberapa alur kisah menjelang akhir yang terasa dilepaskan begitu saja oleh sang sutradara, Stefano Sollima. Hal ini seolah Sollima ingin membiarkan penonton yang memutuskan sendiri kelanjutannya. Meskipun sedikit mengganggu karena penonton dibuat penasaran dan bertanya-tanya, tetapi kekurangan ini masih terasa maklum, mengingat pernyataan Sollima yang sudah berencana untuk membuat Sicario 3.

Rating: 7/10


* artikel ini pernah tayang di beautyjournal.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar